14 Desember 2007

Tes posting

1 komentar
Tes ngeblog lewat hp.tes 123 hehe

kisah indayati, kisah korban traffiking

0 komentar
Malang benar nasib indayati. Setiap hari dia disiksa sama petruk, suaminya. Terakhir, tangan suaminya mendarat keras di wajahnya. Karena nggak kuat disiksa terus, ia beranikan diri kabur dari rumah, dengan membawa anak semata wayangnya, Eka.

Tapi ia bingung, ia nggak bawa uang sepeserpun. mau ke rumah orang tuanya, itu nggak mungkin. Mau kembali lagi? ia tak berani. Akhirnya ia pergi ke rumah adik ibunya, di Semarang.
Untung bagi Indayati, karena kalaulah ia terlambat sehari, pamannya sudah nggak ada, karena pindah ke Manado, karena ia bekerja di perusahaan tambang Amerika, New Monkey (Newmount?). Tanpa disangka ia ditawari ikut ke sana. Dan pergilah ia.

Singkat cerita tinggalah mereka di Manado. Sewaktu habis mengantarkan sepupunya sekolah, ia iseng melihat kerumunan orang. Katanya sih ada audisi film, yang bakal syuting di Bangkok. Tapi Indayati bukan tipe ibu-ibu jaman sekarang yang mengidolakan anaknya -atau bahkan dirinya- menjadi artis, jadi ia nggak tertarik ikutan audisi itu. namun sang Kiky dan Bunda, yang sedang mencari calon artis itu tertarik pada Indayati. Kata Bunda, seorang wadam alias waria alias wanita tanpa vagina, Indayati memiliki wajah asli nusantara, yang ia sebut Waca Waka, wanita cantik wajah kampung.

Walaupun ia menolak, tapi sepupunya sangat antusias. Ia ingin jadi artis terkenal. Begitu juga dengan Buk lik, yang kepengen anaknya terkenal. Maka walaupun sang ayah nggak mengijinkan, dia, sepupu Indayati, nekad pergi ke Bangkok.

Indayati, yang merasa bersalah, berniat membawa pulang sepupunya itu. Namun nahas, ia malah dipaksa ikut ke Bangkok. Dan, jadilah mereka korban traffiking, manusia yang tidak diakui kemanusiaannya...
....

Itulah sepenggal ringkasan kisah Indayati, novel terbaru Remy Silado (yang baru saya baca) yang berjudul Mimi lan Mintuna. Ia, Indayati dan sepupunya merupakan contoh wanita korban traffiking, yang berkedok audisi bin[a]tang film.

Di novel ini kita bisa lihat bagaimana penderitaan mereka, korban traffiking. Mereka hanya dinilai sebagai barang (Sean PV dkk menyebut mereka 'stok'), tak lebih. Manusia yang diperjualbelikan, tanpa mendapatkan uang sepeserpun dari hasil penjualannya itu (katanya sih untuk biaya paspor, administrasi dll).

Cerita selanjutnya? Baca saja sendiri ah..

Oh iya, baru kali ini saya bisa baca buku dan langsung tamat. Memang sih, bukunya tidak setebal buku Klakulkus 1 karangan Purcell, hanya setebal buku analisis real karangannya Bartle (yang aslinya, bukan yang versi dunia baru). Tapi lumayan, ternyata saya masih bisa tahan baca buku lebih dari 2 jam. alhamdulillah...

13 Desember 2007

Matematika UPI Punya Hajatan

0 komentar
Sabtu kemarin jurusan Pendidkan matematika UPI mengadakan seminar nasional Matematika, dengan tema "Permasalahan Matematika dan Pendidikan Matematika Terkini". tempatnya diadakan di Auditorium FPMIPA UPI. Pesertanya? Banyak sekali. Hampir 700 orang. Padahal kapasitas Auditorium hanya 300 orang. Akhirnya panitia sangat sibuk sekali.
Foto diambil dari flickr milik pak Yudi.

Cerita selanjutnya tentang seminar, nanti menyusul, nunggu komputer sayah sembuh.. T_T

10 Desember 2007

Dunia itu datar, dan milik Kamu --saya--

1 komentar
Apa yang kita ingat kalau membaca sejarah awal kemerdekaan? Paling kita ingat Soekarno, Hatta, dan kawan-kawannya yang dikategorikan pahlawan. Tapi kita mungkin tak tahu bagaimana keadaan pak x, yang seorang petani misalnya, atau ibu Y yang jualan di pasar. Mereka tak masuk sejarah, karena dinilai tidak terlalu penting untuk masuk sejarah.

Dulu sejarah milik orang-orang terkenal, bukan milik orang-orang biasa, manusia biasa. Contohnya pak X dan Bu Y di atas, yang mungkin sebetulnya punya peranan penting, minimal bagi keluarganya.

Jadi kalau kita ingin masuk ke dalam sejarah, tertulis dalam sejarah, maka kita harus terkenal dulu. Terkenal seperti Soekarno, Soeharto, atau minimal binatang pilem.

Tapi itu dulu, jaman kamari. Jaman kiwari, hal itu nggak berlaku lagi. Orang biasa -seperti saya- bisa masuk ke dalam sejarah. Tak perlu menjadi orang terkenal dulu. Karena, sekarang sejarah milik orang-orang biasa.

Tak percaya? Tengoklah keadaan dunia maya sekarang. Banyak orang di dunia maya yang terkenal, bahkan sampai ke seluruh dunia. Padahal, di dunia nyata mereka hanya orang biasa-biasa saja. Maka tak heran majalah Time pada akhir tahun 2006 kemarin menobatkan orang-orang biasa sebagai orang yang paling berpengaruh. Padahal, biasanya yang masuk menjadi orang-orang yang berpengaruh adalah orang-orang yang terkenal, misalnya pemimpin dunia, atau para pengusaha, atau penguasa.

Contohnya seorang pemuda dari pakistan (maaf saya lupa lagi namanya). Di dunia nyata, dia adalah pemuda pemalu dan juga pendiam. Tapi di dunia nyata, dia sangat terkenal. Dia yang hobi fotografi sering mengundah (upload) foto-foto tentang keindahan panorama Pakistan di flickr. Ternyata foto-foto yang dihasilkannya sangat digemari para petualang di dunia maya.

Contoh lain adalah dua pemuda dari amerika (saya juga lupa nama mereka). Kedua orang itu ingin menjadi pelawak di tv. Namun nggak ada stasiun tv yang mau menyiarkan lawakan-lawakan mereka. Tapi mereka nggak putus asa. Kedua orang itu lalu melirik YouTube sebagai sarana menayangkan lawakan mereka. Ternyata banyak juga yang menggemari lawakan mereka di internet. Maka terkenallah dia. Sekarang mereka mendirikan situs www.mosh.com.

Semua Orang Bisa Jadi Wartawan
Selama ini informasi didominasi oleh media mainstream, dengan ujungtombaknya adalah para kuli jurnalis, wartawan. Namun di jaman kiwari, orang biasa pun bisa jadi wartawan, dengan cara menjadi blogger.

Contohnya pada saat terjadi peristiwa unjukrasa di Myanmar oleh para biksu, yang akhirnya rusuh, banyak wartawan luarnegeri yang nggak bisa masuk ke Myanmar. Akibatnya tidak ada informasi yang keluar tentang situasi di Myanmar. Tapi ada beberapa blogger yang berinisiatif menuliskan kejadian di Myanmar di blog mereka. Akhirnya, blog itu menjadi salah satu sumber rujukan para wartawan, termasuk dari Indonesia. Bahkan kantor berita besar pun menggantungkan informasinya pada blog-blog semacam itu, yang notabene ditulis oleh orang biasa, bukan wartawan tulen.

Begitu dahsyatnya peran blogger, sampai-sampai di Amerika ada blogger yang mendapatkan kartu pers untuk meliput di DPR nya Amerika. Bahkan katanya, saat konferensi pers presiden Amerika, si Bush, selain mengundang wartawan, om bush juga mengundang beberapa blogger.

Lonceng Kematian LPTK, eh Koran?
Kalau semua orang bisa menjadi wartawan, lalu bagaimana nasib para wartawan? Bagaimana nasib koran, dan media cetak? Apalagi majalah, yang periodisasi terbitnya lebih lama dari koran? Apakah internet menjadi ancaman bagi media cetak?

Dengan adanya internet, informasi yang kita butuhkan tersedia dengan sangat cepat. Kita tidak harus menunggu sehari untuk mendapatkan berita terbaru. Selain cepat, juga lengkap. Kadang mendalam juga. Jadi kalau kita misalkan baca koran keesokan harinya, berita itu kita anggap sudah tidak update lagi, karena toh kita sudah baca, juga lebih lengkap karena tidak berasal dari satu koran.

Jadi, bakal matikah koran? Ternyata tidak juga, karena toh semua ada pasarnya. Misalnya koran jepang, Asahi Shinbun (Maaf kalau salah nulis nama korannya). Tirasnya 12 juta eksemplar setiap harinya. Namun semakin hari tirasnya terus menurun. Untuk mengatasi maslah penurunan tiras itu, pihak manajemen membuat bermacam format koran. Selain edisi cetak, ada juga edisi online dan mobile, untuk di hp. Koran edisi cetak banyak dibaca oleh orang-orang tua, sementara format yang lain kebanyakan kaum muda. Jadi semua ada pasarnya tersendiri.

Selain itu sekarang pihak media mainstream mulai menggandeng orang-orang biasa -ibu rumah tangga, siswa sma, atau karyawan biasa - untuk berkontribusi daam medianya. Istilahnya citizen journalism mungkin. Contohnya Strait Times Singapura meluncurkan situs www.stom.com.sg. Konten berita di sana seluruhnya berasal dari sumbangan masyarakat Singapura, bukan dari wartawan Strait Times. Isinyapun kadang nampak sepele,seperti siswa yang ketangkap basah merokok, yang mungkin saja nggak akan pernah dimuat di media mainstream.

Di Indonesia, koran kompas membuat kompasCommunity. Di sini, kita bisa menyumbangkan informasi. Walaupun sampai saat ini kebanyakan masih banyak tulisan yang isinya curhat-curhatan saja, katanya.

Jadi, intinya, internet dan juga blogger bukan dianggap ancaman oleh media mainstream, tapi jadi peluang.

*oleholeh talkshow jurnalisme online

Jalur offroad di Cibaduyut

1 komentar
Tak banyak yang tahu bahwa sekarang ada jalur offroad atau motocross di daerah Cibaduyut. Padahal jalur itu sudah lumayan lama ada, hampir setahun terakhir. Jalur itu tepatnya berada di daerah Rancamanyar, pokoknya daerah perumahan Rancamanyar.

Cuma sayangnya jalur itu nggak berada di sirkuit khusus. Jalur itu adanya di jalan umum, jalan yang biasa dipakai orang berlalu lintas dari Pameungpeuk Banjaran ke kota Bandung.

Dan memang sebenarnya itu bukan jalur resmi motocross. Tapi mirip. Bahkan mungkin lebih menantang daripada jalur asli yang sengaja dibuat.

Jalan di daerah Rancamanayar itu memang sangat berlubang. Bahkan sebagian diantaranya sudah nggak ada aspalnya. Hanya batu-batu saja. Mending kalau batunya kecil-kecil. Ini mah besar-besar. Kata orangmah jalan teh meni borok.

Kalau lagi musim halodo, jalanan jadi berdebu. Kalau hujan, lebih parah. Selain becek (karena berlumpur), sebagian badan jalan juga jadi tergenang air, karena banyaknya kolam di tengah jalan. Kolam itu sepertinya bisa dipakai beternak lauk, tinggal dikasih bibit lauk saja. halah.

Saya sudah senang ketika jalur pertigaan Cibaduyut dibeton. Suganteh pembetonan itu bakal diteruskan sampai daerah rancamanyar. Tapi ternyata tidak. Akhirnya, sampai sekarang jalanan masih borok, jerawatan, berlubang, dan berdebu.

Pa Obar, geus we jalur etamah tong dibenerkeun deui. Sakalian jadikeun jalur offroad enyaan we, Bar! Kagok ruksak lah. Da mun angger teu dibenerkeunmah, kalahkah ngarusak motor urang.