10 Desember 2007

Jalur offroad di Cibaduyut

1 komentar
Tak banyak yang tahu bahwa sekarang ada jalur offroad atau motocross di daerah Cibaduyut. Padahal jalur itu sudah lumayan lama ada, hampir setahun terakhir. Jalur itu tepatnya berada di daerah Rancamanyar, pokoknya daerah perumahan Rancamanyar.

Cuma sayangnya jalur itu nggak berada di sirkuit khusus. Jalur itu adanya di jalan umum, jalan yang biasa dipakai orang berlalu lintas dari Pameungpeuk Banjaran ke kota Bandung.

Dan memang sebenarnya itu bukan jalur resmi motocross. Tapi mirip. Bahkan mungkin lebih menantang daripada jalur asli yang sengaja dibuat.

Jalan di daerah Rancamanayar itu memang sangat berlubang. Bahkan sebagian diantaranya sudah nggak ada aspalnya. Hanya batu-batu saja. Mending kalau batunya kecil-kecil. Ini mah besar-besar. Kata orangmah jalan teh meni borok.

Kalau lagi musim halodo, jalanan jadi berdebu. Kalau hujan, lebih parah. Selain becek (karena berlumpur), sebagian badan jalan juga jadi tergenang air, karena banyaknya kolam di tengah jalan. Kolam itu sepertinya bisa dipakai beternak lauk, tinggal dikasih bibit lauk saja. halah.

Saya sudah senang ketika jalur pertigaan Cibaduyut dibeton. Suganteh pembetonan itu bakal diteruskan sampai daerah rancamanyar. Tapi ternyata tidak. Akhirnya, sampai sekarang jalanan masih borok, jerawatan, berlubang, dan berdebu.

Pa Obar, geus we jalur etamah tong dibenerkeun deui. Sakalian jadikeun jalur offroad enyaan we, Bar! Kagok ruksak lah. Da mun angger teu dibenerkeunmah, kalahkah ngarusak motor urang.

Dufan Im koming

0 komentar
Kuliah empat tahun itu capek, melelahkan. Apalagi dengan kenyataan bahwa diri si urang masih nggak lulus-lulus juga. Padahal yang lain sudah pada lulus, dan sekarang sudah resmi menjadi pengangguran. (Aneh, padahal baru kuliah empat tahun, kok sudah dianggap sudah lama? hahaha)

Karena itu ketika ada yang mengusulkan untuk main ke Dufan, hampir semua yang ikut buka bersama setuju. Kebetulan Irma, teman saya, punya link di perusahaan travel (atau kerja di sna? sepertinya ia). Hanya saja, ke dufan itu nggak murah, tidak seperti ke taman firdaus atau Dago pakar. Apalagi mahasiswa miskin seperti saya, yang sangat mengandalkan belas kasihan orangtua.

Dari hasil rapat, disepakati pergi ke dufan setelah lebaran. Alasannya, berharap lebaran ada yang ngasih amplop hehe. Tepatnya, tanggal 7 November kami berangkat.

Namun beberapa hari menjelang hari H belum ada kepastian jadi atau tidaknya berangkat ke Dufan. Apalagi yang sudah membayar belum juga memenuhi target, yaitu minimal 25 orang. Bahkan beberapa orang sudah menyatakan mengundurkan diri, dengan alasan belum ada uang.

Akhirnya pada H-1 sudah ada kepastian bahwa ke Dufan tidak jadi dibatalkan, artinya walaupun yang ikut tidak memenuhi kuorum (halah kayak sidang aja), kami tetap bisa berangkat, karena Irma mengajak keluarganya untuk menutupi kekurangan peserta itu.

Kami berangkat sekitar jam tujuh pagi dari depan gedung FPMIPA, menggunakan bus yang kecil. Yang berangkat kebanyakan perempuan. Laki-laki hanya empat orang saja. Awalnya sedih dan kecewa, karena tidak semua orang ikut. Bahkan yang berangkat kurang dari 25 orang. Padahal anak kelas C ada 30an orang.

Kami sampai di Dufan sekitar jam 11 siang. Kebetulan Dufan baru buka. Sebelum masuk, kami sempat foto-foto bareng di depan gerbang masuk. Seelah itu suami Irma membagikan karcis pada kami.


Wahana pertama yang saya coba adalah kicir-kicir. Awalnya saya nggak tahu seperti apa kicir-kicir itu, dan seberapa seram. Tapi karena beberapa teman langsung masuk antrian, saya iutan juga. Selagi antri, ternyata kicir-kicir lumayan seram juga. Tapi ah kagok, sudah masuk antrian. Sia-sia kalau mesti keluar lagi. Tapi ada temen saya ada yang nggak jadi naik. Dia kleuar dari antrian.

Dan ternyata benar, kicir-kicir seram juga. Tubuh saya diputar-putar, tak hanya ke kiri-kanan, juga ke atas-bawah. Tapi asyik juga.

Setelah itu kami naik tornado, wahana yang sering diiklankan di TV. Teman saya mengingatkan saya, katanya hati-hati kalau naik tornado, karena waktu libur lebaran banyak yang mengalami kecelakaan. Saya sempat was-was juga, karena kelihatannya wahana tornado sangat menyeramkan. Tapi waktu ngantri, perasaan itu hilang. Hanya penasaran. Bahkan peringatan teman saya lewat sms itu saya lupa.

Waktu naik tornado, perasaan cemas mulai datang lagi. Apalagi sabuk pengaman seperti yang agak longgar. Tapi saya pasrah. Dan benar, waktu berada di atas, waktu posisi badan terbalik, tubuh seperti mau jatuh, karena sabuk yang longgar itu. Apalag waktu tubuh diputar-putar di atas tanah jakarta. HUhh seram juga. Hanya saja tubuh hanya diputar ke atas-bawah saja, nggak ke kiri-kanan. Jadi nggak terlalu memusingkan.

Total selama di Dufan kami naik sekitar 10 wahana. Lumayan banyak juga. Cuma ada beberapa wahana yang tidak sempat kami naiki, karena ternyata jam 6 sore Dufan sudah tutup. Bahkan sepi banget. Padahal kalaulah dibuka sampai jam delapan malam, sepertinya mengasyikan.


Kami pulang sekitar jam setengah delapan dari Dufan. Seharusnya jam setengah sepuluhan kami sudah sampai ke Bandung. Tapi ternyata jalan-jalan di Jakarta macetnya parah banget. Akhirnya kami tiba di gerbang UPI jam 12 malam. Perjalanan pulang yang melelahkan, tapi asyik. Nggak sia-sia ternyata keluar uang banyak. Karena toh, kapan lagi kami bisa main bareng-bareng? priceless!! hehe..

08 Desember 2007

Capek deh

3 komentar
Ternyata cape juga ngurus acara dengan peserta 600 orang lebih. Cape deh

04 Desember 2007

Zenwalk Live rilis!!

2 komentar
Nggak mau ketinggalan dengan distro lain, akhirnya zenwalk merilis distro live cd nya. Sebulan sebelumnya, zenwalk juga baru merilis versi terbaru untuk desktop, versi 4.8.

Jadi ingin coba... sayang nggak ada koneksi internet buat nyedotnya.. hixhix...

Zenwalk Live 4.8 Released!

4 in 1

0 komentar
Sekarang di kompie saya ada 4 sistem operasi. Banyak. Tapi kan bagus hehe... Selain Windows XP dan Zenwalk yang sudah lebih dulu diinstall (dan yang dipakai sehari-hari), saya juga coba install Ubuntu. Tapi bukan Ubuntu yang terbaru, karena saya pesimis komputer saya kuat buat Ubuntu 7.10. Saya instal Ubuntu yang versi dulu, 7.04.
Kenapa saya install ubuntu? Karena sekarang banyak teman saya yang penasaran dengan Ubuntu dan menanyaan segala masalah di Ubuntu ke saya. Jadi mau tidak mau saya harus bisa dong menjelaskan tentang Ubuntu. Tapi karena saya nggak ngerti sama Ubuntu, maka terpaksa saya harus install Ubuntu,walaupun sudah pasti berat buat komputer saya yang pas-pasan. Tapi nggak apa-apa lah, demi tersebarnya GNU/Linux hehe..
Tapi di Ubuntu saya nggak bisa dengerin musik. Saya nggak tahu codec apa yang harus saya install, atau download, karena ternyata file yang saya download kemarin buat Ubuntu terbaru. hiks.. jadi sedih.
Satu lagi OS yang saya instal adalah Gentoo. Distro ini saya dapatkan dari DVD Infolinux edisi tahun kemarin, yang saya pinjam dari kang bima. Memang sudah hapeuk mungkin, tapi demi melepaskan kepenasaran saya akan distro ini, saya coba bakar dan instal juga.
Ternyata install Gentoo repot juga, walaupun tidak sulit-sulit amat. Kapasitas 2 GB ternyata nggak cukup buat install Gentoo dengan X nya. Beberapa kali saya gagal install Gentoo karena kapasitasnya habis. Boros juga Gentoo. Padahal Slackware saja yang cd installernya ada 4, bisa diinstall di hardisk yang cuma 2 GB, walau tanpa KDE (dengan instalasi minimal).
Akhirnya saya install Gentoo dengan opsi yang minimalis, hanya menginstal sistemnya saja plus vim, tanpa install program dan Gnome+X. Dengan konfigurasi semacam itu instalasi berhasil juga. pyuh... Tapi jadinya aneh, sebab nggak ada apa-apa di Gentoo. Dan parahnya waktu saya mau coba install aplikasi, saya nggak tahu cara installnya. Juga saya nggak tahu paket-paket aplikasi itu ada di mana. Sebab di cd nya, cuma ada file image, dengan ukuran yang sangat besar.
Ada satu lagi masalah setelah saya instal Gentoo. ternyata distro yang lain tidak kedetek. Yang kedetek hanya windows saja, sementara Ubuntu dan Zenwalk nggak. Pusing juga, karena data-data saya ada di kedua distro itu. Sudah saya coba mengutak-atik grub-nya, dengan menyalin grub punya ubuntu ke Gentoo. Tapi tetap saja nggak bisa. Saya sudah khawatir zenwalk dan Ubuntu nggak akan terbaca lagi. Bukan apa-apa, saya males kalo harus instal 2 distro itu, terutama Ubuntu, karena sangat lama.
Akhirnya saya coba booting dari cd. Awalnya saya pake cd Slackware 11. Tapi tetep, waktu saya coba booting zenwalk, masih nggak bisa. Katanya image kernel nggak ada. terus saya coba pake cd zenwalk. Akhirnya setelah utak-atik configurasi di menu instalasi awal, saya bisa juga masuk ke bash-nya zenwalk.
Saya mount partisi zenwalk, dan buat link lilo.conf ke etc milik sistem. Setelah beberapa kali salah saya bisa juga konfigurasi ulang lilo-nya. huh....