Kemarin saya sama paman saya beli komputer baru di pameran komputer yang sedang berlangsung di Braga. Sebenarnya bukan pameran, tapi pindah toko :D.
Komputer yang dibeli Pentium 4 3.0 GHz. Lumayan cepat. Motherboardnya Asus P5GC-MX. Tadinya kami mau pake MB Next, bahkan Foxcon atau Biostar. Tapi kata paman saya, mending pake Asus, walaupun lebih mahal, tapi terjamin kualitasnya. Akhirnya, Asus itu yang dibeli.
Harddisknya 80 GB. Cukup buat newbie. Cukuplah buat komputer yang cuma dipake maen game atau ngetik saja. Paling banter jadi pengganti Tape, cuma buat dengerin lagu.
Harganya? 2 juta lebih. Itu tanpa monitor. Walaupun duitnya cuma ada 2 juta, terpaksa kami beli juga yang itu. Karena ternyata nunggu nginstall komputer baru bisa sampai 2 jam, maka kami puter-puter lagi. Ternyata di toko lain ada komputer yang spesifikasinya hampir mirip (dengan MB Asus juga, malah pake monitor), harganya hampir sama. Artinya kalau tanpa monitor, sepertinya harganya bisa di bawah 2 juta. Tapi da kumaha, kami sudah kagok beli di toko itu.
Kami puter-puter lagi. Di stand Andi, saya beli buku Java, judulnya saya lupa lagi, yang pasti, dari judulnya, seharusnya buku itu menjelaskan tentang pemrograman java di eclipse. Tapi waktu saya buka ternyata tentang eclipse hanya satu bab. hiks (sedikit) ketipu nih :(. Ah tapi da sebagian buku pemrograman di Indonesia mah hanya mengupas kulitnya saja, hanya pengantar. Katanya.
Ternyata nginstal komputer itu SANGAT lama. Komputer yang kami beli beres jam setengah delapan malam. Artinya butuh 4 jam buat nginstal komputer. Lama juga. Setelah beres bayar kami pun pulang. Walaupun dingin, kami harus pulang, sambil bawa komputer yang berat itu. Masa nginep di Braga? haha...
Sayangnya, itu bukan komputer saya hiks hisk..
12 Januari 2008
08 Januari 2008
31 Desember 2007
Debat sang ateis dan teis
Alkisah di negara antah berantah ada seorang ateis, yang tak percaya adanya tuhan. Menurutnya tuhan itu hanya khayalan belaka. Itu semua tidak ada buktinya. Singkat kata dia tak percaya sama tuhan. Suatu hari dia menantang debat dengan seorang teis, yang sering disebut ulama. Dia menantang sang ulama untuk berdebat seputar ada tidak adanya tuhan. Ulama itupun setuju, lalu disepakatilah waktu dan tempat untuk debat itu.
Di hari yang ditentukan, sang ateis sudah siap di depan mimbar. Kebetulan dia datang lebih awal. Hadirin juga sudah mulai memenuhi ruangan. Ruangan itu ternyata hampir dipenuhi oleh masyarakat yang penasaran dengan debat itu. Namun ternyata ulama belum datang.
Setengah jam berlalu, namun si ulama belum datang juga. Para hadirin sudah mulai bertanya-tanya, dimanakah gerangan kau, ulama? Sementara sang ateis tampak senyum-senyum saja.
Satu jam telah berlalu, namun ulama itu belum datang juga. Hadirin sudah lebih dari gerah. Mereka bertanya-tanya, mungkinkah ulama itu, yang mereka hormati dan segani, takut melawan si ateis? Atau memang karena dia tak punya nyali? Di depan, sang ateis tampak berbahagia sekarang. Walaupun sama kesal, tapi ia senang, ternyata ulama itu tak datang jua.
Akhirnya setelah menunggu lama, ulama itu datang juga. Di wajahnya tak tampak sedikitpun rasa dosa, minimal menyesal. Tampak wajahnya sedikit tersenyum. Tentu saja sebagian hadirin ada yang kecewa, karena ulama itu datang (sangat) terlambat.
Ulama itu lalu naik ke atas panggung, berhadapan dengan sang ateis, yang sekarang sedikit tegang. sanga ateis lalu bertanya, kenapa ia bisa sampai terlambat lebih dari 2 jam.
Dengan tenang, ulama itu menjawab,
"Tadi sebenarnya saya berangkat pagi dari rumah. Namun waktu mau menyebrangi sungai yang sangat lebar di sana, tidak ada satupun perahu atau rakit di sana. Akhirnya saya tunggu agar pohon-pohon yang tumbuh besar di pinggir sungai itu berjatuhan dan menyusun sendiri menjadi rakit, agar saya bisa sebrangi sungai itu. Namun ditunggu sampai 1 jam lebih ternyata pohon itu nggak jatuh juga. Apalagi jadi rakit. Akhirnya saya sendiri yang menebang pohon itu dan membuat rakit seadanya agar bisa nyebrang."
"Wah cerita omong kosong dari mana itu? Masa ada pohon jatuh sendiri? Jadi rakit lagi? Nggak mungkin ah! Bohong, tipu! Masa ustad ngarang cerita?" ungkap sang ateis dengan nada emosi.
Sebagian hadirin juga bertanya-tanya, kenapa ulama yang biasanya memberikan ceramah bisa-bisanya ngarang cerita aneh dan tak masuk akal?
Namun ulama itu dengan tenang menjawab, "Ya cerita itu memang fiksi. Memang tidak mungkin pohon-pohon itu berjatuhan dan menyusun dirinya sendiri menjadi rakit. Begitu juga alam ini, manusia ini, nggak mungkin berjalan sendiri. Pasti ada penciptanya."
Cerita selanjutnya .... (maap, saya ketiduran :P)
*ini cerita penceramah waktu jumatan di DT yang saya sedikit modifikasi ceritanya. Maaf kalau nggak nyambung atau apapun. Juga maaf kalau nggak tamat, maklum godaan jumatan memang sangat besar, terutama untuk tidur :D
Di hari yang ditentukan, sang ateis sudah siap di depan mimbar. Kebetulan dia datang lebih awal. Hadirin juga sudah mulai memenuhi ruangan. Ruangan itu ternyata hampir dipenuhi oleh masyarakat yang penasaran dengan debat itu. Namun ternyata ulama belum datang.
Setengah jam berlalu, namun si ulama belum datang juga. Para hadirin sudah mulai bertanya-tanya, dimanakah gerangan kau, ulama? Sementara sang ateis tampak senyum-senyum saja.
Satu jam telah berlalu, namun ulama itu belum datang juga. Hadirin sudah lebih dari gerah. Mereka bertanya-tanya, mungkinkah ulama itu, yang mereka hormati dan segani, takut melawan si ateis? Atau memang karena dia tak punya nyali? Di depan, sang ateis tampak berbahagia sekarang. Walaupun sama kesal, tapi ia senang, ternyata ulama itu tak datang jua.
Akhirnya setelah menunggu lama, ulama itu datang juga. Di wajahnya tak tampak sedikitpun rasa dosa, minimal menyesal. Tampak wajahnya sedikit tersenyum. Tentu saja sebagian hadirin ada yang kecewa, karena ulama itu datang (sangat) terlambat.
Ulama itu lalu naik ke atas panggung, berhadapan dengan sang ateis, yang sekarang sedikit tegang. sanga ateis lalu bertanya, kenapa ia bisa sampai terlambat lebih dari 2 jam.
Dengan tenang, ulama itu menjawab,
"Tadi sebenarnya saya berangkat pagi dari rumah. Namun waktu mau menyebrangi sungai yang sangat lebar di sana, tidak ada satupun perahu atau rakit di sana. Akhirnya saya tunggu agar pohon-pohon yang tumbuh besar di pinggir sungai itu berjatuhan dan menyusun sendiri menjadi rakit, agar saya bisa sebrangi sungai itu. Namun ditunggu sampai 1 jam lebih ternyata pohon itu nggak jatuh juga. Apalagi jadi rakit. Akhirnya saya sendiri yang menebang pohon itu dan membuat rakit seadanya agar bisa nyebrang."
"Wah cerita omong kosong dari mana itu? Masa ada pohon jatuh sendiri? Jadi rakit lagi? Nggak mungkin ah! Bohong, tipu! Masa ustad ngarang cerita?" ungkap sang ateis dengan nada emosi.
Sebagian hadirin juga bertanya-tanya, kenapa ulama yang biasanya memberikan ceramah bisa-bisanya ngarang cerita aneh dan tak masuk akal?
Namun ulama itu dengan tenang menjawab, "Ya cerita itu memang fiksi. Memang tidak mungkin pohon-pohon itu berjatuhan dan menyusun dirinya sendiri menjadi rakit. Begitu juga alam ini, manusia ini, nggak mungkin berjalan sendiri. Pasti ada penciptanya."
Cerita selanjutnya .... (maap, saya ketiduran :P)
*ini cerita penceramah waktu jumatan di DT yang saya sedikit modifikasi ceritanya. Maaf kalau nggak nyambung atau apapun. Juga maaf kalau nggak tamat, maklum godaan jumatan memang sangat besar, terutama untuk tidur :D
Menulis atau ...
Ternyata menulis menggunakan bahasa ibu(sunda) lebih susah dibanding pake bahasa indonesia. Padahal saya sehari-hari ngomong pake bahasa sunda. Bahkan ngelamun pun pake bahasa sunda, ga bahasa indonesia (komo bahasa inggehis :P). Tapi ketika ada suatu ide dan hendak ditulis, kosakata yang muncul sangat sedikit. Beberapa kali saya salah ketik, salah ucap, salah tulis. Walaupun di benak nulis bahasa sunda, di keyboard yang diketik malah bahasa indonesia.
Mungkin saya terlalu hati-hati dalam menulis dalam basa sunda. Takut salah, nulis pake bahasa kasar, atau bahasa lemes, bukan bahasa loma (walaupun saya udah ga tau lagi batas-batas antara basa kasar-loma-lemes-bahkan basa dusun hehe).
Jadi mikir, saya aja yang biasa ngomong basa sunda susah nulis basa sunda, apalagi orang lain yang udah biasa ngomong bahasa indonesia? Tapi mending Husnudzan saja, mungkin hanya saya aja yang ga bisa nulis, atau belum biasa nulis, sedemikian sehingga susah menuliskannya.
Mungkin saya terlalu hati-hati dalam menulis dalam basa sunda. Takut salah, nulis pake bahasa kasar, atau bahasa lemes, bukan bahasa loma (walaupun saya udah ga tau lagi batas-batas antara basa kasar-loma-lemes-bahkan basa dusun hehe).
Jadi mikir, saya aja yang biasa ngomong basa sunda susah nulis basa sunda, apalagi orang lain yang udah biasa ngomong bahasa indonesia? Tapi mending Husnudzan saja, mungkin hanya saya aja yang ga bisa nulis, atau belum biasa nulis, sedemikian sehingga susah menuliskannya.
Gegerkalong Kabanjiran
Kamari adi kuring di sms ku babaturanana. Eusina ngabejaan yen kosanana kabanjiran! Kasur jeung simbut cenahmah baseuh. Kabeneran kosan eta keur kosong, da para penghunina marudik. Ah dasar anak kampung, mun pekan sunyi teh kalahkah mudik, lain ngapalkeun :D
Balik deui ka banjir, adi kuring tangtu reuwas, banjir ti mana? perasaan euweuh walungan di deukeut kosan etamah. Paling ge solokan leutik. Komo dibejaan kasurna baseuhmah. Akhirna adi kuring jeung pun mamah ka kota, ka kosan. Rencanana kasur nu baseuh rek di bawa ka kampung, diganti ku kasur nu aya di imah. Nu kapapancenan mawa kasur? pasti si kuring, saha deui atuh.
Tapi, kusabab tadi anteng teuing maen gim di bumina pun emang, akhirna kasur nu tadina rek dibawa ka bandung teu kabawa. Maklum gurunggusuh, da tadina rek nyimpang heula ka radio ojet alias OZ, rek mawa hadiah kuis substereo. Ngan edas, geuningan mawa hadiah ge teu bisa, da datangna siang teuing.
Untungna pas kuring ka kosan adi, kasurteh cenah teu kudu dibawa, da teu baseuh teuing cenah. Babaturanana hideng pangmoekeun eta kasur, jadina pas adi kuring kadinya, kasurna geus rada tuus. Ngan ari simbutmah teu katulungan, kudu diseuseuh heula etamah.
Oh enya, banjir teh geuningan lain ti solokan atawa walungan (da emang teu aya walungan hehe), tapi ti keran di cai nu teu ditutupan, nu akhirna caina mudal kamamana.
Tos heula ah.
Balik deui ka banjir, adi kuring tangtu reuwas, banjir ti mana? perasaan euweuh walungan di deukeut kosan etamah. Paling ge solokan leutik. Komo dibejaan kasurna baseuhmah. Akhirna adi kuring jeung pun mamah ka kota, ka kosan. Rencanana kasur nu baseuh rek di bawa ka kampung, diganti ku kasur nu aya di imah. Nu kapapancenan mawa kasur? pasti si kuring, saha deui atuh.
Tapi, kusabab tadi anteng teuing maen gim di bumina pun emang, akhirna kasur nu tadina rek dibawa ka bandung teu kabawa. Maklum gurunggusuh, da tadina rek nyimpang heula ka radio ojet alias OZ, rek mawa hadiah kuis substereo. Ngan edas, geuningan mawa hadiah ge teu bisa, da datangna siang teuing.
Untungna pas kuring ka kosan adi, kasurteh cenah teu kudu dibawa, da teu baseuh teuing cenah. Babaturanana hideng pangmoekeun eta kasur, jadina pas adi kuring kadinya, kasurna geus rada tuus. Ngan ari simbutmah teu katulungan, kudu diseuseuh heula etamah.
Oh enya, banjir teh geuningan lain ti solokan atawa walungan (da emang teu aya walungan hehe), tapi ti keran di cai nu teu ditutupan, nu akhirna caina mudal kamamana.
Tos heula ah.
Langganan:
Postingan (Atom)
